Text
Studi Korelasi Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence) Dan Kenaikan Muka Air Laut (Sea Leverl Rise) Terhadap Perubahan Data Pasang Surut (Studi Kasus Pantai Muara Baru Jakarta Utara)
Salah satu risiko terbesar yang dihadapi oleh Indonesia dan juga kota-kota di pesisir pantai di negara asia lainnya, seperti Bangladesh, China, Filipina, India, Jepang, Thailand dan Vietnam adalah masalah penurunan muka tanah (land subsidence). Di Indonesia, penurunan muka tanah terbesar terjadi di kota-kota seperti Jakarta, Pekalongan dan Demak, di mana penurunan muka tanahnya cukup signifikan antara 1-20 sentimeter setiap tahunnya. Hasil kajian penurunan muka tanah dari Japan International Cooperation Agency (JICA) tahun 2007-2020, menunjukkan laju rata-rata penurunan muka tanah di Jakarta berkisar 1-9 sentimeter setiap tahun dan masih terjadi penurunan tanah yang cukup signifikan di lokasi Penjaringan,Muara Baru Jakarta Utara. Berdasarkan laporan WWF (2007) temperatur tahunan di Indonesia meningkat sebesar 0,3"C sejak tahun 1990. Temperatur atmosfer terus meningkat berimplikasi pada naiknya intensitas dan frekuensi bencana alam salah satunya naiknya muka air laut Berdasarkan laporan IPCC (2013) akan terjadi kenaikan muka air laut dengan peningkatan 2,8-3,6 mm/tahun. Pengamatan Geodetik dan levelling dilaksanakan di Posal Muara Baru disertai levelling dalam kurun waktu Januari 2021, April 2022 dan Oktober 2022 setelah dilaksanakan pengolahan geodetik menggunakan Software Bernese 5.2, sedangkan pengolahan Pasang surut dan levelling menggunakan metode least sguare. Setelah melaksanakan pengolahan dihasilkan Beda Tinggi Posal dari Ellipsoid mengalami penurunan muka tanah sebesar - 0.0052 m (5mm) tiap bulannya apabila dijumlahkan dalam periode 22 bulan masa pengamatan berjumlah - 0.1147 m. Dari hasil penghitungan MSL Bulanan Didapat selisih beda tinggi dari pengamatan I ke pengamatan III sebesar 0.13 m. Setelah dibandingkan melalui grafik untuk tinggi HP diatas Ellipsoid mengalami tren turun sedangkan MSL diatas Ellipsoid mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan penggunaan air tanah (pembangunan pabrikpabrik disekitar area penelitian) yang berlebihan dan dengan kapasitas besar dapat menimbulkan kerugian seperti turunnya permukaan tanah, kemiringan bangunan dan banjir
Tidak tersedia versi lain