Text
Indra-Jaya : seroja dharmana masehi Indonesia Raya dalam jalan silang dunia
Istilah mahesi adalah perpaduan daripada kata maha dan kata isi yang jika digandeng, maka diucapkan dan ditulis ”mahesi'””. Adapun artinya telah terkandung dan terpancarkan oleh unsur-unsur katanya sendiri, yang Secara harfiah dapat dirumuskan ''memberi isi besar”, atau memberi isi. Sepadat-padatnya dan selengkap-lengkapnya. Istilah tersebut pernah dipakai - juga dalam susunan 'Mahesi Pradja” sewaktu jaman Keprabuan Singasari (1268—92), yang berarti. "memberi isi kepada negara”, seperti biasanya dibagi menjadi "'Mahesi Rangkah” (5 melaksanakan politik dalam negeri) dan "'Mahesi Samatha Bhawana” (& melaksanakan politik semesta dunia z politik luar negeri). Dalam perkembangan arti-maknanya lebih lanjut, istilah ''mahesi” itu berarti: merias, seperti sampai sekarang dipakai juga dalam kata: "mafhjesi temanten”. Oleh sebab itu, maka biasanya dalam istilah ''mahesi” itu terkandung maksud kecuali ''mengisi” juga "menghias dan merias”, agar terpenuhilah hasrat dan niat memberikan isi yang padat-lengkap serta wujud dan wajah yang indah-molek, hingga akan selalu menarik hati. Adapun rumus Indra-Jaya adalah singkatan dari '/ndonesia-Raya dalam Jalan-silang Dunia”, yang ditulis dengan menggunakan ejaan intemasional. Apabila dipersoalkan, sesungguhnya dapat juga dibentuk singkatan yang akan lain bunyinya, tetapi dalam lingkungan para pelopor dan pendiri Lemhannas dahulu, telah menjadi kesepakatan untuk menggunakan singkatan: “Indra-Jaya”) (5 Indra-Jaia). Dalam kerangka dan rangkaian maksud judul ”' Seroja Dharmma mahgsi : ' Indra-Jaya”? itu, maka kecuali disajikan pembahasan mengenai ” Seroja Dharmma”' sendiri, juga disajikan tinjauan dan pengkajian mengenai 'IndraJaya” dalam wujud dan wajahnya sebagai Indonesia-Raya dalam jalansilang dunia, yang memang sudah sejak dahulu kala selalu menarik perhatian dan minat seluruh umat manusia. Demikianlah dikandung hasrat untuk dapat menyajikan dan mendalami. arti-makna letak-kedudukan Indonesia “Raya di tengah-tengah jalan silang dunia itu. Dalam mendalami dan menghayati posisi-silang Indra-Jaya itu, metode penelitian - dan pengkajian didasarkan atas landasan-landasan Lemhannas sendiri, yaitu: (1). landasan 'idial . : Pancasila; (2). landasan struktural : UUD-1945; (3). landasan politik : Garis Besar Haluan Negara; (4). landasan emperis . ": Sejarah bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lain; (5) landasan ilmiah : Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan Tima dasar Lemhannas itu, maka segala tinjauan dan tanggapan diletakkan dalam kerangka ”lima (jenis) pengetahuan”, seperti hingga kini dikenal oleh umat manusia, yaitu (a) Pengetahuan indrawi, (b) Pengetahuan ilmiah, (c) Pengetahuan filsafat, (d) Pengetahuan firasat: dan (e) Pengetahuan religius, yang masing-masing telah memiliki dalil-dalilnya tersendiri yang obyektif. Dalam metodologi tersebut, yang nampak sungguh khas adalah cara-pandang: yang menempatkan segala tinjauan dan pendapat dalam arti maknanya secara integral (= comprehension integral), yang merupakan ciri funda: mental dalam cara-pandang Pancasila. Oleh sebab itu metodologi tersebut dimaksudkan sebagai percobaan untuk menemukan metodologi Pancasila, yang dalam kenyataannya berwatak interdisipliner . Dengan digunakannya metodologi Pancasila itu, penelitian dan pengkajiannya akan lebih berwujud penggalian kembali kebudayaan dan peradaban sendiri di samping kebuday aan dan peradaban bangsa-bangsa lain. Dalam rangka usaha tersebut, maka banyak dicoba untuk mengembangkan kembali “istilah-istilah asli” dalam merintis ''konsepsi-konsepsi”, baik dalam lingkungan nasional maupun internasional, yang disebut ripta (= strategic concept). Dalam usaha menemukan riptarripta itu, perikehidupan nasional dan regional serta. mondial didekati berdasarkan sistem pendekatan Asta-Gatra (= delapan aspek), yang meliputi Tri-Gatra alamiah negaranya dan Panca-Gatra sosial kehidupan bangsanya. Hasil pendekatan tinjauan Asta-Gatra secara gatra demi gatra memberikan gambaran perikehidupan nasional dalam keadaan statis , sedang pengintegrasian (dimanunggalkannya) ke-”delapan aspek” itu, akan melukiskan perikehidupan nasional dalam keadaan gerak dinamika pertumbuhan dan perkembangannya. Demikianlah, akan dicoba untuk dapat merumuskan ripta-ripta mengenai kelima bidang penyelenggaraan perikehidupan nasional berdasarkan “isi”, "wadah" dan "tatalaku” nasional, yang (dapat) disebut Pancaripta Nasional. Sebagai ripta yang terpokok adalah 'ripta tata penyelenggaraan kelang. sungan hidup nasional”, yang disebut Wawasan Nasional, dan yang merupakan salah satu aspek dari pengejawantahan falsafah nasional. Adapun keempat ripta lainnya meliputi ripta-ripta. ''tata-penyelenggaraan tertib nasional” (= demokrasi), "tata penyelenggaraan kemakmuran dan kesejahteraan nasional” (= ekonomi-sosial): "tata penyelenggaraan pengamanan nasional” (= ketahanan), dan "tata penyelenggaraan pembinaan (hidup) nasional” (=tatabina). Mengikuti selera dan gaya perkembangan Lemhannas hingga tahun 1970-an, maka penelitian dan pengkajian ini dipusatkan kepada ripta wawasan nasional Indonesia, yang disebut wawasan Nusantara (dalam Indra-Jaya) dan yang dimaksudkan untuk (dapat) mendasari ripta-ripta lainnya, terutama ripta: ketahanan nasional, yang merupakan sasaran pokok pengkajian Lemhannas sejak permulaan berdirinya. Dalam rangka meningkatkan ketahanan nasional ke dalam "ketahanan regional” (dan mungkin juga “ketahanan mondidl”), maka pengkajiannya secara luasmendalam akan disajikan dalam tulisan berikut, yang akan meneliti lingkungan Indonesia yang pertama: Asia Tenggara (area study). Mengenai bahan-bahan sandaran dan sumber-sumber yang telah dikutipnya, pada akhir tulisan ini disertakan daftar kepustakaan, yang kiranya agak cukup luas dan padat. Daftar kepustakaan tersebut disusun sesuai dengan tata susunan bab-bab dalam isi buku, untuk memudahkan penggunaannya. Dalam pada itu, dengan sistematik dan penataan sumber-sumber kepustakaan tersebut dikandung maksud juga untuk menyajikan dasar pemikiran bagi pengembangan pola pikiran "Seroja Dharmma mahesi Indonesia-Raya dalam jalan-silang dunia” (= Indra-Jaya), yang ingin dimekarkan ke dalam konsepsi-konsepsi (riptaripta) lingkungan-nya, seperti terkandung dalam gagasan-gagasan (area-study): 1. Asia Tenggara dalam jalan silang dunia (=Astra-Jaya); 2. Asia dalam silang dunia (=Asia-Jaya); 3. Mandhala Samudera Indonesia (India)(=mandhoraya); 4. Seluruh dunia raya (=Mondial) (=Samathabhawana). Demikianlah, dengan konsepsi “Indra-Jaya” sendiri, akan tergambarlah "lima lingkungan”, yang kiranya dapat diajukan sebagai wujud dan wajah: Pancaripta Bawana, yang (dapat) merupakan peningkatan dan pemekaran dari pola pemikiran Pancaripta Nasional. Mudah-mudahan segenap panca| ripta tersebut dapat disajikan secara lengkap, sekurang-kurangnya sampai . angan" untuk st menyongang tina jaman baru Asia, sepert permulaan Dasawarsa 1970-an ini. Akhirnya, saya menyadari sedalam-dalamnya betapa sederhana dan kurang lengkapnya sajian ini, yang saya susun sebagai "'usaha percobaan” dalam merintis ripta-ripta baru. Bahwasanya usaha ini adalah suatu percobaan dan suatu rintisan belaka, maka sudah sewajarnya akan segera nampak kekurangan-kekurangan serta kelemahan-kelemahannya. Oleh sebab itu, dengan gerak hati saya memohon kepada sekalian pihak, agar sekiranya para widya sudi memercikkan kebijaksanaannya untuk memberikan petunjuk-pe tunjuk penyempurnaan dalam segala aspek dan seluruh wujud serta wajahnya. Dengan harapan yang demikian itu, saya memberanikan diri menyajikan tulisan ini sekedar sebagai bahan pemikiran dan pengolahan lebih lanjut berdasarkan sistem terbuka. Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesarbesarnya kepada sekalian pihak, yang telah memberikan bantuan dan dorongan hingga saya dapat menyelesaikan tulisan ini. Sungguh sangat banyak jumlah pribadi-pribadi dan lembaga-lembaga yang telah berkenan memberikan pertolongan-pertolongan dan petunjuk-petunjuk yang sungguh berharga, hingga saya merasa tidak mampu untuk menyebutnya semua seorang demi seorang. Semoga dengan selesainya tulisan ini dapat terbaca pandangannya dan dapat terlihat hasil jerih payahnya. Sekali lagi, dengan ini saya melahirkan penghargaan saya yang tidak terhingga.
Tidak tersedia versi lain