Text
Ketahanan Pangan & Radikalisme
Kemiskinan dapat menimbulkan sikap radikal, pemberontakan, bahkan revolusi. Jika dibiarkan berarti kita sedang memelihara bom waktu yang siap meledak. Semua pihak memiliki kewajiban moral untuk turut serta memerangi kemiskinan. Jika kemiskinan masih merajalela, ledakan social dalam bentuk kekerasan massa, sulit dibendung. Banyak kalangan menganggap fanatisme keyakinan beragama sebagai salah satu embrio munculnya gerakan radikal. Namun sebagian mengaitkannya dengan persoalan ekonomi. Nah seorang perwira tinggi militer Laksamana Didit Herdiawan termasuk yang mempunyai anggapan radikalisme erat kaitannya dengan masalah ekonomi. Lebih spesifik lagi ia mengatakan persoalan pangan yang tidak dapat diatasi, dapat memunculkan bibit radikalisme. Apalagi sejak munculnya era keterbukaan di Indonesia. Begitu banyak harapan yang tersimpan, namun belum menjadi kenyataan. Baik masalah papan, sandang maupun pangan. Dua Kata Itu Pangan dan Radikalisme. Itulah yang menjadi focus bagi mantan ajudan Presiden Bambang Yudhoyono pada 2004 – 2009 ini. Maka saat mengikuti kursus singkat lemhanas pada 2011, iya pun tertarik mengkaji masalah ketahanan pangan dalam mencegah radikalisme di tanah air, khususnya diwilayah terpencil.
Tidak tersedia versi lain