Text
Membangun negeri melalui survei & Pemetaan
Pertama melihat buku ini, bisa jadi pembaca agak bingung dengan judul yang tidak lazim. Who is Who in Bakosuratanal: Membangun Negeri Melalui Survei & Pemetaan memang terkesan keinggris-inggrisan. Apalagi setelah membaca seluruh isi buku yang ternyata ditulis dalam Bahasa Indonesia. Apa tidak bisa judul tersebut diubah saja menjadi bahasa nasional kita sendiri? Secara jujur, saya juga mengakui adanya kejanggalan penulisan judul tersebut. Sebagai orang yang bekerja di dunia jurnalistik, jelas kalimat tersebut terasa mengganjal dan boleh jadi salah menurut ukuran Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) kita. Karena itu dalam kesempatan ini, saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas ”kekurangnikmatan” membaca judul tersebut Sedikit penjelasan dari saya adalah sejak awal buku ini dikonsep, saya memang tidak terlibat dalam menentukan judul. Artinya, sebelum buku digarap saya mendapat pesan titipan dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) untuk tidak menghilangkan Who is Who in Bakosurtanal. Terlepas dari masalah itu, terus terang saya merasa bangga dan tertantang ketika diminta menggarap buku yang tadinya dipatok hanya mencapai 200 halaman. Berbagai wawancara, penelusuran literatur, dan pendekatan emosional saya dengan lebih dari 75 nara sumber akhirnya menghasilkan buku yang sedang Anda baca ini. Saya tidak bisa membayangkan akhirnya buku ini bisa selesai secepat ini, hanya kurang dari empat bulan. Semua itu tentu tidak terlepas dari peran para narasumber yang di sela… sela kesibukannya bekerja dan berkarya itu masih mau diganggu baik untuk diwawancarai, diminta mengisi kuisioner, maupun difoto di depan kamera. Keasyikan mendalami semua pengalaman mereka dengan segala suka dan dukanya inilah yang malah mengakibatkan jumlah halaman buku membengkak menjadi total lebih dari 300 halaman. Tentu ada keinginan untuk meringkas sesuai pedoman awal tadi. Bisa saja hal itu dilakukan tetapi setelah saya renungkan dan resapi, terlalu sayang jika pengalaman mereka yang sangat menarik dan menyentuh rasa kemanusiaan (humanity) itu menjadi tidak utuh lagi. Saya juga beruntung bisa lebih cepat menangkap denyut mereka. Hal itu tak terlepas dari awal perkenalan saya yang terjadi pada 1993. Ketika itu, sebagai wartawan Iptek Suara Pembaruan, saya mendapat tugas liputan di Bakosurtanal yang dipimpin Dr. Ir. Paul Suharto (alm). Hubungan pertemanan (partnership) itu berlanjut hingga kini, di bawah kepemimpinan Ir. RW Matindas, MSc. Selama 12 tahun lebih berada di antara mereka itulah rasanya lebih mudah bagi saya untuk menjalin ikatan emosional. Cukup menarik memang mengikuti jejak-jejak mereka membawa Bakosurtanal hingga seperti sekarang ini Rangkaian ini menjadi mozaik dan punya ciri khas tersendiri; perpaduan antara kompetensi dan human interest. Kedekatan saya dengan Bakosurtanal juga semakin kental karena akhir-akhir ini saya ”bekerja” sebagai peneliti di salah satu laboratorium di Kedeputian Survei Dasar dan Sumber Daya Alam yang kini dipimpin Dr Aris Poniman. Bahkan beliau juga menjadi pembimbing thesis magister (52) saya di Program Studi Agroklimatologi, Institut Pertanian Bogor (IPB). Kini, tepat 17 Oktober 2005 Bakosurtanal berusia 36 tahun. Rentetan sejarah yang ditorehkan para pendiri, pimpinan, staf, dan karyawan memang sayang untuk dilupakan begitu saja. Buku ini hadir mencoba untuk merekam kondisi riil dari mereka dengan segala harapan, keinginan, dan tentu saja kritikan. Budaya otokritik seperti itu tampaknya mulai mencuat ke permukaan. Hal itu bukan karena sedang mengikuti mode di era masa kini yang bebas berpikir dan bersuara. Tapi saya lebih melihat otokritik mereka itu pada sebuah kebu tuhan bagaimana membawa Bakosurtanal ke depan agar bisa makin dikenal, dikenang, dan diperlukan masyarakat luas. Dalam buku ini memang tidak menampung semua opini Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Bakosurtanal yang kini berjumlah 683 orang. Tapi mudah-mudahan dengan merangkum pendapat seluruh pejabat struktural dan sebagian pejabat fungsional seperti peneliti, surveyor, arsiparis, pustakawan, dan widya iswara setidaknya bisa mewakili kondisi sesungguhnya. Akhirnya sebagai manusia biasa, pada kesempatan yang baik di bulan Ramadhan ini, saya minta maaf atas kekhilafan baik kepada seluruh warga Bakosurtanal maupun pembaca lainnya. Saya menunggu segala kritik, sumbang saran, dan masukan dari pembaca demi lebih sempurnanya buku ini.
Tidak tersedia versi lain