Text
Saksofon, Kapal Induk dan Human Error
Pada masa orde lama, agar bisa makan, rakyat Indonesia banyak yang terpaksa antre beras dan minyak tanah. Akan tetapi, waktu itu peralatan angkatan perang kita disegani di kawasan Asia. Kemudian, di era reformasi peralatan angkatan perang kita banyak yang rusak akibat embargo sucad, sementara rakyat tetap saja banyak yang antre minyak tanah. Apa solusi bagi persoalan ini? Jawabnya, kita harus punya harga diri dan kebanggaan. Kita punya potensi untuk meraih kemajuan di berbagai bidang asal saja mau menjaga kehormatan, meningkatkan disiplin, serta berbuat segala sesuatu dengan benar, sesuai aturan. Inilah sekelumit opini seorang Chappy Hakim, yang ingin melihat bangsa maju, memiliki harga diri, sekaligus disegani bangsa-bangsa lain. Menurutnya, hal yang sama juga diperlukan untuk mengatasi banyaknya kecelakaan moda udara, laut dan darat yang sering menghasilkan kesimpulan "human error". Cerita lain, untuk membela kepentingan bangsanya di kanca diplomasi internasional, Chappy Hakim kerap memanfaatkan kepiawaiannya bermain saksofon. Saat menjabat Kepala Staf Angkatan Udara "diplomasi saksofon" ini juga ia terapkan di Amerika Serikat dalam rangka memperjuangkan diakhirinya embargo suca pesawat tempur TNI AU oleh negara adikuasa itu.
Tidak tersedia versi lain