Text
Analisis simulasi pergerakan bendan terapung menggunakan pemodelan numerik 2D (Dua dimensi) Dalam operasi Search and Resque (SAR) di Laut (Studi Kasus Lokasi Jatuhnya Pesawat Air Asia QZ 8501)
Indonesia memiliki luas perairan dua per tiga dari luas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perbedaan karakteristik di setiap wilayah dan besarnya dinamika lautan merupakan suatu tantangan bagi tim Search and Resque (SAR) dalam melaksanakan tugasnya di laut. Data kondisi terkini di lapangan seperti data pola arus sangatlah berguna dalam pelaksanaan operasi SAR. Penelitian ini mengambil kasus kecelakaan pesawat Air Asia Qz.8501 tanggal 28 Desember 2014. Pola arus di Selat Karimata dan Laut Jawa digambarkan menggunakan permodelan numerik ADCIRC-2DDI sedangkan simulasi pergerakan benda terapung digambarkan menggunakan modul drouge. Pemodelan dilakukan selama sebelas hari mulai tanggal 28 Desember 2014 sampai dengan 7 Januari 2015. Simulasi ini dapat mempermudah tim SAR untuk memprediksi pola arus dan pergerakan benda terapung yang ada di area SAR. Data pasang surut hasil model diverifikasikan dengan data observasi lapangan sedangkan simulasi benda terapung diverifikasi menggunakan data debris dan jenazah hasil evakuasi tim SAR. Hasil verifikasi pasut menunjukan kesamaan fase akan tetapi amplitudo sedikit berbeda. Hasil simulasi pergerakan benda terapung dapat menggambarkan arah sebaran benda terapung dari pesawat dan korban kecelakaan pesawat sehingga area pencarian korban dan lokasi jatuhnya pesawat dapat difokuskan pada area yang lebih kecil.
Tidak tersedia versi lain