Text
Pemanfaatan Variasi Frekuensi Multibeam Echosounder Dalam Klasifikasi Sedimen Dasar Laut
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengoptimalkan penggunaan teknologi Multibeam Echosounder (MBES) multifrekuensi dalam kegiatan pemetaan batimetri dan klasifikasi sedimen dasar laut di wilayah perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. MBES merupakan instrumen survei akustik bawah laut yang mampu menghasilkan data topografi dasar laut sekaligus intensitas hamburan balik (backscatter) yang digunakan untuk menginterpretasikan karakteristik fisik permukaan dasar laut. Dalam penelitian ini, digunakan tiga variasi frekuensi MBES, yaitu 200 kHz, 300 kHz, dan 400 kHz, untuk menilai pengaruh perbedaan frekuensi terhadap akurasi dan resolusi data yang dihasilkan. Proses klasifikasi sedimen dilakukan dengan metode Sediment Analysis Tools (SAT), yang mengintegrasikan data backscaftter dari MBES dengan hasil analisis laboratorium dari grab sampling. Validasi dilakukan melalui pendekatan regresi logaritmik untuk mengetahui hubungan antara intensitas akustik dan karakteristik fisik sedimen, seperti ukuran butir dan komposisi material (pasir, lanau, dan lumpur). Hasil penelitian pada frekuensi 200 kHz diperoleh rentang nilai intensitas dari -42.83070 dB sampai dengan -16.44486 dB. Pada frekuensi 300 kHz diperoleh rentang nilai intensitas dari -38.36637 dB sampai dengan -11.31195 dB. Pada frekuensi 400 kHz diperoleh rentang nilai intensitas dari -32.91829 dB sampai dengan -2.00350 dB. Menunjukkan bahwa frekuensi yang lebih tinggi cenderung menghasilkan nilai intensitas backscatter yang lebih tinggi dan resolusi spasial yang lebih baik, namun memiliki keterbatasan dalam penetrasi terhadap sedimen lunak. Sebaliknya, frekuensi rendah memiliki cakupan area yang lebih luas namun resolusi yang lebih rendah.
Tidak tersedia versi lain