Text
Karakteristik Tinggi Gelombang Laut Di Perairan Halmahera Utara Dan Morotai Pada Periode Waktu ENSO Tahun 2012-2021
Pada dunia pelayaran, Informasi tentang perilaku tinggi gelombang sangat diperlukan oleh pengguna laut karena merupakan fenomena yang sangat penting dalam bernavigasi di Laut. Salah satu perairan yang Ramai dan strategis adalah di perairan Halmahera Utara dan Morotai. Letak Perairan tersebut secara geografis relatif dekat dengan fenomena Enso yang terjadi di samudera Pasifik, namun belum banyak penelitian membahas tentang keterkaitan antara karakteristik tinggi gelombang dan keterkaitannya dengan ENSO tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis keterkaitan antara perilaku gelombang (tinggi gelombang) di wilayah perairan Halmahera Utara dan Morotai selama periode El-Nino dan La-Nina (ENSO) antara tahun 2012 hingga 2021. Metode yang digunakan adalah menganalisis kekuatan korelasi tinggi gelombang signifikan, gelombang alun/swell dan gelombang angin atau Wind wave dengan fenomena ENSO yang ditunjukkan dengan indeks SOI. Data yang digunakan adalah data rata-rata bulanan tinggi gelombang signifikan (SWH) dari BMKG dari tahun 2017-2021, data SWH, data tinggi gelombang alun (SW), gelombang angin (WW) tiap 3 jam dari model numerik Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) dari tahun 20122021, serta data SWH per 1 jam dari ERA5 ECMWF tahun 2012-2021. Penelitian ini juga memanfaatkan data indeks bulanan dari Southern Oscillation Index (SOI) untuk mengidentifikasi pengaruh ENSO terhadap dinamika gelombang laut. Pemrosesan data dilakukan dari data CMEMS dan ECMWF dari per jam menjadi data bulanan, musiman, tahunan dan 10 tahunan. Selanjutnya hasil pemrosesan data tersebut divalidasi dengan data BMKG. Setelah Validasi diperoleh hasil baik maka dilanjutkan dengan uji Korelasi antara data CMEMS, ECMWF dan BMKG. Hasil validasi yaitu korelasi CMEMS-BMKG sebesar 0,667 dan ECMWF-BMKG sebesar 0,703, sedangkan nilai korelasi CMEMS-ECMWF sebesar 0,974 (di atas nilai 0,85), mengindikasikan bahwa CMEMS dan ECMWF menyajikan informasi yang sangat serupa dan berpotensi redundan. Dengan pertimbangan tersebut, CMEMS dipilih sebagai variabel prediktor tinggi gelombang signifikan. Analisis juga menunjukkan bahwa nilai SOI berkorelasi negatif maupun positif dengan tinggi gelombang CMEMS dan ECMWF, bergantung pada fase ENSO dan stasiun pengamatan. Korelasi CMEMS—SOI berkisar dari -1,00 (sangat kuat) hingga 1,00 (sangat kuat), sedangkan ECMWF-—SOI berada pada rentang nilai -1,00 (sangat kuat) hingga 1,00 (sangat kuat), yang mengindikasikan bahwa nilai SOI dapat digunakan sebagai parameter signifikan dalam memprediksi pola tinggi gelombang di perairan Halmahera Utara dan Morotai. Model persamaan regresi sederhana yang dikembangkan dari hubungan tersebut dapat digunakan sebagai alat prediksi tinggi gelombang dengan tingkat akurasi yang memadai guna mendukung perencanaan operasi maritim dan navigasi.
Tidak tersedia versi lain