Text
Analisis Nilai Intensitas Multibeam Echosounder Pada Operasi Search and Rescue (SAR) Serpihan Kapal Selam Di Kedalaman Laut Menengah
Operasi Search and Rescue (SAR) terhadap kapal selam yang hilang di kedalaman laut menengah (200-1000 meter) merupakan tantangan yang kompleks karena kondisi lingkungan yang ekstrem, seperti tekanan tinggi, visibilitas yang sangat rendah, serta propagasi gelombang suara yang dak stabil. Teknologi Multibeam Echosounder (MBES) telah menjadi alat utama dalam mendukung operasi SAR bawah laut karena kemampuannya menghasilkan data batimeti serta nilal intensitas pantulan akustik (backscatter) dari dasar laut secara simultan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik nilai intensitas MBES, mengevaluasi penggunaannya dalam mendeteksi keberadaan kapal selam atau serpihannya, serta membandingkan efektivitas metode pengolahan gndding base surface dan gridding mosaic dalam konteks operasi SAR kapal selam. Studi ini mengambil lokasi di perairan Laut Bali, dengan menggunakan data hasil survei MBES EM302 yang dilaksanakan oleh KRI Rigel-933 pada operasi SAR KRI Nanggala-402 tahun 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskniptif, dengan teknik analisis yang dilakukan melalui perangkat lunak CARIS HIPS and SIPS versi 11.3. Proses meliputi koreksi data kecepatan suara, kalibrasi patch test, georeferensi batirnetri, serta pembersihan data (cleaning) dan recompute untuk menghasilkan Digital Terrain Model (DTM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai intensitas pantulan MBES yang tinggi (sekitar —13.063 dB) dapat digunakan sebagai indikator kuat untuk mendeteksi objek keras seperti serpihan kapal selam. Metode gridding mosaic terbukti menghasilkan resolusi spasial dan kontras visual yang lebih tajam dibandingkan dengan gridding base surface, sehingga lebih efektif dalam mengidentifikasi keberadaan objek asing di dasar laut. Visualisasi tiga dimensi serta citra mosaik intensitas berhasil mengungkap tiga target terduga yang memiliki karakteristik anomali reflektif dan morfologis. Penelitian ini menegaskan pentingnya pemanfaatan nilai intensitas MBES sebagai alat bantu dalam mendeteksi target bawah laut secara lebih akurat dan efisien. Selain itu, hasil analisis ini juga memberikan rekomendasi teknis kepada operator MBES dan tim SAR dalam memilih metode pengolahan data yang sesuai untuk meningkatkan keberhasilan misi pencarian, khususnya di perairan laut menengah. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan strategi Survei hidro-oseanografi pada operasi kemanusiaan dan pertahanan maritim.
Tidak tersedia versi lain