Text
Variabilitas Mixed Layer Depth Dan Best Operation Depth Kapal Selam Terhadap El Nino Southern Oscillation Di Wilayah Kolom Air Alur Laut Kepulauan Indonesia II
Salah satu karakteristik oseanografi yang penting dalam menentukan karakteristik perairan adalah Mixed Layer Depth (MLD). MLD ini juga dapat difungsikan dalam menghitung Best Operation Depth (BOD) kapal selam. Metode penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Penelitian dilaksanakan di perairan ALKI II dengan tujuan menganalisis variabilitas MLD dan BOD selama 20 tahun (2003-2022) serta mengkaji hubungan antara ENSO (EI Nino dan La Nifa) dengan variabilitas MLD di tiga section (Laut Sulawesi, Selat Makassar, dan Selat Lombok). Hasil analisis variabilitas MLD bulanan selama 20 tahun menunjukkan pola yang identik di tiap lokasi dengan kedalaman MLD berkisar antara 18,54-47,38 m. Untuk Laut Sulawesi dan Selat Makassar, MLD terdalam pada bulan Januari dan terdangkal pada bulan April-Mei, sedangkan Selat Lombok MLD terdalam di bulan Juli dan terdangkai di bulan November. Secara monsunal, kedalaman MLD berkisar antara 22,75-42,82 m, dengan MLD terdalam di Laut Sulawesi dan Selat Makassar saat musim Barat, sementara di Selat Lombok saat musim Timur. Analisis korelasi variabilitas MLD dan ENSO menunjukkan MLD cenderung lebih dangkal saat El Nifo dibandingkan dengan La Nina dan kondisi netral. Hasil uji korelasi Pearson Moment menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara MLD saat El Nino dan La Niha dengan MLD saat kondisi netral. Rata-rata BOD kapal selam diperkirakan antara 73,18-117,01 m. Simulasi ray tracing dilakukan untuk memastikan bahwa gelombang suara dari kapal selam tidak mencapai permukaan air sehingga kapal selam tidak terdeteksi oleh sonar pasif kapal permukaan.
Tidak tersedia versi lain