Text
Model Ruang Wilayah Pertahanan Dinamis Negara Kepulauan Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis (Kasus Pulau Batam Provinsi Kepulauan Riau)
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 2/3 wilayahnya merupakan lautan. Posisi Pulau Batam sangat strategis karena selain berada pada Selat Malaka yang merupakan choke point, juga tepat berada pada jalur komunikasi dan perdagangan dunia. Hal ini merupakan potensi ancaman karena akan mendorong hadirnya kekuatan asing untuk mengamankan kepentingan negaranya. Perlu adanya sistem pertahanan negara yang dipersiapkan untuk operasi militer perang. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Menentukan medan operasi militer perang berdasarkan analisis data geospasial, 2) Mengkaji kemampuan citra penginderaan jauh untuk memperoleh data karakteristik medan yang berpengaruh terhadap penetapan model ruang wilayah pertahanan dinamis dan 3) Merumuskan model ruang wilayah pertahanan dinamis yang dipersiapkan untuk digunakan dalam operasi militer perang dalam satu kesatuan negara kepulauan menggunakan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah : 1) menentukan medan operasi militer perang menggunakan model SIG berbasis representasi dengan metode superposisi, 2) Memperoleh data karakteristik medan yang berpengaruh terhadap penetapan model ruang wilayah pertahanan dinamis menggunakan metode interpretasi dan transformasi citra penginderaan jauh dan 3) Merumuskan model ruang wilayah pertahanan dinamis menggunakan metode skoring/indeks.
Berdasarkan analisis geospasial dapat ditentukan medan OMP terdiri dari 1) Medan Pertahanan Penyangga, yaitu medan yang terbentang diluar wilayah negara meliputi wilayah perairan dan udarah diatasnya, 2) Daerah Perlawanan, yaitu medan yang berada diseluruh wilayah teritorial meliputi wilayah darat, laut dan udara dan 3) Wilayah kompartemen didarat meliputi Daerah Sasaran Amfibi dan Tumpuan Udara. Teknologi penginderaan jauh mampu memberikan informasi berupa karakteristik bentang lahan yang berpengaruh terhadap penentuan model ruang wilayah pertahanan dinamis, yaitu : (1) Gradien pantai depan, 2) Jenis/bentuk garis pantai pendaratan, 3) Panjang garis pantai pendaratan, 4) Komposisi dasar laut, 5) Rintangan Pantai, 6) Jalan keluar/Jaringan jalan dan 7) Penggunaan lahan. Sistem informasi geografi melalui pendekatan kuantitatif berjenjang tertimbang dengan metode skoring/indeks digunakan untuk menghasilkan model ruang wilayah pertahanan dinamis menghasilkan pada Pulau Batam terdapat 1) Medan Pertahanan Penyangga, 2) Daerah Perlawanan, 3) 5 (lima) lokasi yang dapat digunakan untuk pendaratan amfibi yaitu di kecamatan Nongsa, kecamatan Sungaibedug, 2 lokasi dikecamatan Sagulung dan kecamatan Sekupang dan 4) Tumpuhan Udara yaitu 7 lokasi di kecamatan Sagulung, 4 lokasi di kecamatan Batuaji, 7 lokasi di kecamatan Nongsa, 3 lokasi di kecamatan Sekupang, 3 lokasi di keccamatan Sungaibedug dan 2 lokasi di kecamatan Bengkong dan masing-masing 1 lokasi pada kecamatan Batamkota, kecamatan Batuampar dan kecamatan Lubukbaja.
Tidak tersedia versi lain