Text
Dinamika Spasial Genangan Air Permukaan Dan Penurunan Tanah Di Wilayah Pesisir Jakarta Menggunakan Penginderaan Jauh Multi-Sensor
Jakarta merupakan salah satu kota metropolitan di dunia yang paling rentan terhadap penggenangan dan penurunan tanah. Tiga hal yang berpotensi memperburuk risiko penggenangan air permukaan di wilayah pesisir Jakarta, yaitu perubahan penurunan muka tanah yang makin buruk, kenaikan muka laut lokal dan topografi lahan yang makin rendah di bawah permukaan laut. Tujuan utama penelitian ini yaitu: (1) mengkaji penggenangan air permukaan di wilayah pesisir Jakarta pada Mei-Juni 2016 menggunakan multi-temporal data kombinasi penginderaan jauh sistem pasif dan aktif yang diwakili Landsat 8 dan Sentinel IA, dan (ii) mengkaji laju penurunan tanah di Jakarta periode Mei-Juni 2016 dan Maret 2015-April 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi penginderaan jauh sistem multi-temporal data Landsat 8 dan Sentinel 1A merupakan salah satu kombinasi terbaik untuk memetakan dinamika spasial penggenangan air permukaan secara cepat di wilayah tropik Jakarta. Penerapan nilai reflektansi air dengan nilai threshold dan koefisien backscaterring air masing-masing » 0.123 dan -19dB memetakan dengan baik genangan air permukaan di sepanjang pantai, waduk, tanggul, ekosistem mangrove dan lahan terbangun di wilayah pesisir Jakarta sejak akhir Mei 2016 hingga akhir Juni 2016. Laju penurunan tanah rata-rata di Jakarta dengan baseline 24 hari maksimum 2.05 cm per 24 hari terdapat di sepanjang pesisir dan garis pantai Koja dan Clincing, pesisir Jakarta dan Cakung dan Makassar, Jakarta Timur. Sedangkan penurunan tanah maksimum dengan baseline 744 hari mencapai 17.00 cm per tahun terjadi di seluruh wilayah Jakarta. Penurunan tanah terdistribusi pada: (1) seluruh kecamatan, Jakarta Utara, (ii) Kecamatan Kalideres, Cengkareng, Kembangan, Kebun Jeruk dan Pesanggrahan, Jakarta Barat, (iii) Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, (Iv) Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, dan Kecamatan Pancoran, Cilandak, Kebayoran Lama dan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tidak semua wilayah di Jakarta mengalami penurunan muka tanahnya, sebagian tanahnya mengalami proses konsolidasi. Selama tiga dekade terakhir, laju penurunan tanah rata-rata setiap tahun memberi dampak lebih besar 96.40”5 (19 cm) dibandingkan kenaikan muka laut rata-rata lokal yang relatif kecil 3.60?0 (0.71 cm). Selama tiga tahun terakhir dampak penurunan tanah per tahun masih signifikan sebesar 96.00”0 (17.00 cm) dibandingkan kenaikan muka laut lokal sebesar 4.00?0 (0.71 cm). Laju penurunan tanah rata-rata « sebulan (24 hari) relatif besar 74.28”0 (2.05 cm) dibandingkan rata-rata kenaikan muka laut 25.720 (0.71 cm). Penurunan tanah di Jakarta belum dapat dihentikan. Ancaman krisis air tanah bagi kebutuhan domestic Jakarta dipengaruhi oleh kecepatan urbanisasi penduduk yang bertambah besar 510 juta jiwa pada tahun 2017. Tingkat pertumbuhan penduduk yang mencapai 3.22 'o selama 2007-2017 dengan pemanfaatan air tanah tahun 2015 sebesar »9.1 juta m' dari sumur air tanah yang aktif 4.473 buah. Laju penurunan tanah dapat dihentikan dengan moratorium pemanfataan air tanah dan pengelolaan secara optimal system perpipaan air baku. Perubahan topografi wilayah Jakarta akibat penurunan tanah yang buruk menyebabkan perubahan elevasi lahan berada di bawah permukaan laut, berisiko penggenangan air permukaan akibat kenaikan muka laut Jakarta, mengancam wilayah pesisir Jakarta dan sebagian wilayah Jakarta Barat dan Timur di masa mendatang. Kenaikan muka laut rata-rata Jakarta hingga tahun 2025 dan 2030 mendatang diperkirakan relative kecil tidak melebihi tunggang pasut Jakarta sebesar « 1 m.
Tidak tersedia versi lain