Text
Pengaruh Fenomena Iklim Kawasan Indo-Pasifik Terhadap Dinamika Sebaran Klorofil-a Permukaan Laut Di Perairan Indonesia
Kondisi oseanografi di wilayah sepanjang perairan barat Pulau Jawa, Selat Karimata dan Teluk Tomini memiliki karakter yang unik dan dinamis karena wilayah ini dipengaruhi oleh dinamika laut-atmosfer di Samudera Pasifik, Samudera India, Laut Cina Selatan dan perairan dalam Indonesia. Interaksi laut atmosfer di wilayah Indo-Pasifik tentu juga mempengaruhi dinamika sirkulasi laut—-atmosfer di perairan ini. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang dinamika interaksi parameter-parameter biologi-fisis oseanografi yang menyebabkan terjadinya kelimpahan klorofil-a di perairan Indonesia. Penelitian ini dilakukan di 3 (tiga) wilayah dengan karakteristik yang berbeda. PENELITIAN 1 diarankan untuk mengkaji dinamika interaksi parameter biologi-fisis oseanografi yang menyebabkan terjadinya kelimpahan klorofil-a di perairan semi tertutup (Teluk Tomini). Teluk Tomini, teluk terbesar di Indonesia, memiliki batimetri yang kompleks dan karakteristik topografi yang dihubungkan oleh Laut Maluku di sebelah timur dan dikelilingi oleh rangkaian pegunungan di sisi utara, barat dan selatan. PENELITIAN 2 ditujukan untuk mengkaji pola distribusi klorofila dan trend kenaikan/penurunan untuk masing-masing kejadian Indian Ocean Dipole (IOD) positif di perairan laut dalam (barat Pulau Sumatera hingga selatan Pulau Jawa) selama kurun waktu 2003 — 2015. Selama kurun waktu tersebut, telah terjadi 1 (satu) kali IOD positif yang kuat di tahun 2006, 2 (dua) kali IOD positif yang moderat di tahun 2012 dan 2015, dan 3 (tiga) kali IOD positif yang lemah, masing-masing di tahun 2007, 2008 dan 2011. PENELITIAN 3 didesain untuk menganalisis hubungan curah hujan di perairan laut dangkal terhadap kelimpahan klorofil-a di perairan laut dangkal (Selat Karimata). Lokasi ini diduga sangat dipengaruhi oleh limpasan sungai yang pada umumnya akan membawa supply nutrient. Di samping itu, di lokasi ini belum dijumpai penelitian mengenai kelimpahan klorofil-a. Penelitian ini menggunakan media citra Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) untuk melihat sebaran data klorofil-a. Data ini merupakan hasil observasi satelit Agua yang dimiliki oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) selama kurun waktu #13 tahun terakhir (2003 — 2015) dan memiliki resolusi spasial sebesar 9 km x 9 km. Untuk memahami interaksi laut-atmosfer yang mempengaruhi pola distribusi kelimpahan klorofil-a, digunakan beberapa data pendukung sebagai berikut: data suhu permukaan laut (SPL) dari Optimum Interpolatioan - Sea Surface Temperature (OI-SST) hasil interpretasi citra satelit Advanced Very-High-Resolution Radiometer (AVHRR) milik National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA) dengan resolusi spasial 0.25” x 0.25” atau 27.8 km x 27.8 km, data kecepatan angin permukaan yang didapat dari European Center for Medium-Range Weather Forecast (ECMWF), data kedalaman lapisan tercampur yang diperoleh dari perangkat observasi ARGO float dengan resolusi spasial 19 x 19 atau 111.3 km x 111.3 km. Hasil pada PENELITIAN 1 menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a di Teluk Tomini menunjukkan variabilitas setengah tahunan yang dipengaruhi oleh angin monsun dan variasi antartahunan yang dipengaruhi oleh fenomena ENSO. Peningkatan konsentrasi klorofil-a dalam skala setengah tahunan terjadi pada saat musim angin monsun tenggara. Ketika terjadi fenomena El Nifo, konsentrasi klorofil-a di perairan Teluk Tomini mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi tahunannya. Sedangkan PENELITIAN 2 menunjukkan bahwa variasi sebaran klorofil-a permukaan di wilayah barat Sumatera dan selatan Jawa meningkat saat monsun tenggara dan terjadinya IOD positif. Peningkatan klorofil-a permukaan yang intens diobservasi di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Variasi klorofil-a permukaan di wilayah timur Samudera India tidak semata-mata didorong oleh upwelling karena variasi spasialtemporal ketebalan lapisan penyangga (barrier layer) juga mempengaruhi variasi klorofil-a permukaan. Hasil observasi menunjukkan bahwa ketebalan lapisan penyangga yang diamati selama kejadian IOD Modoki positif lebih tipis daripada yang diamati selama kejadian IOD positif. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan lapisan penyangga yang tebal selama peristiwa IOD positif menghambat gerakan massa air yang mengangkut massa air yang kaya nutrisi dari bawah permukaan ke permukaan laut. Sementara, PENELITIAN 3 mengenai variabilitas klorofil-a di Selat Karimata. Hasil menunjukkan bahwa terdapat dua puncak konsentrasi klorofil-a permukaan yang tinggi selama fase puncak tenggara (JAS) dan monsun barat (DJF). Untuk skala waktu antar-tahunan, anomali konsentrasi klorvfila permukaan meningkat secara signifikan selama tahun La Nifia yang disebabkan meningkatnya curah hujan selama monsun tenggara (JAS) sedangkan peningkatan konsentrasi permukaan klorofil-a selama tahun-tahun E/ Nifo terjadi selama musim monsun timur laut (DJF). Hasil yang menunjukkan adanya peningkatan curah hujan selama musim tenggara (JAS) pada tahun-tahun La Nifa dan selama musim barat laut (DJF) pada tahun E/ Nifio menyebabkan peningkatan aliran sungai yang mengangkut nutrisi tinggi menuju pantai Sumatera dan Kalimantan.
Tidak tersedia versi lain