Text
Identifikasi Kedangkalan (Imprecise Shoal Area) Guna Updating Peta Laut Menggunakan Citra Satelit Sentinel-2A (Studi Kasus Kepulauan Labuan Bajo Dan Kepulauan Takabonerate)
Kebutuhan akan pemetaan batimetri perairan dangkal sangat dibutuhkan dalam updating peta laut untuk menjamin keselamatan bernavigasi. Penelitian ini memanfaatan pengideraan jauh (Remote Sensing) dengan menggunakan citra satelit Sentine-2A dan mengembangkan metode tersebut untuk mendeteksi kedangkalan (Imprecise Shoal Area) kurang dari 20 meter pada lokasi yang telah disurvei dengan baik di Perairan Labuan Bajo. Metode yang telah teruji diaplikasikan pada dua lokasi penelitian yang masih menggunakan hasil survey belanda (1902-1920) dan belum ter update, lokasi tersebut terletak di Laut Flores dengan peta laut no 372 (120”52'55.900”-121”23'39.400" BT, dan 06'22'28.300"07”07-27.845" LS) dan kepulauan labuan bajo yang juga masih menggunakan data survey belanda dengan skala 1 : 200 000. Hasil deteksi kedangkalan pada citra dengan metode visual dibentuk menjadi area poligon lalu dioverlaykan pada peta laut untuk dianalisa. Kedangkalan (Imprecise Shoal Area) yang belum terdapat pada peta laut digambarkan di peta sesuai standar S4 IHO (International Hydrographic Organization). Kedangkalan digambarkan dengan simbol Imprecise Shoal Area sebagai updating peta laut. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Citra satelit Sentine-24 dapat mendeteksi kedangkalan (Imprecise Shoal Area) dengan baik, kombinasi band RGB 432 Sentinel-2A adalah kombinasi terbaik untuk mendeteksi kedangkalan (Imprecise Shoal Area) : 2) Kedangkalan (Imprecise Shoal Area) yang di deteksi dapat digambarkan dengan baik pada peta laut sebagai updating peta.
Tidak tersedia versi lain