Text
Identifikasi Pertumbuhan, Pergerakan, Dan Volume Upwelling Di Samudera Hindia Selatan Jawa
Upwelling merupakan salah satu fenomena penting yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat produktivitas primer perairan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pertumbuhan upwelling dari lapisan bawah, pergerakan massa air bersuhu rendah dan salinitas tinggi, serta mengetahui volume upwelling. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data suhu dan salinitas di 33 layer kedalaman dari HYCOM selama tahun 2017, data angin ECMWF, data batimetri GEBCO, data ENSO dari BOM dan NOAA, IOD dari jamstec. Pengolahan data dilakukan dengan merata-ratakan data suhu dan salinitas setiap bulannya di 33 layer kedalaman dan ditampilkan distribusinya secara horizontal. Berdasarkan distribusi horizontal, kemudian dibuat batasan nilai suhu maksimum 260C dan nilai salinitas minimum 34 psu sebagai indikator terjadinya upwelling. Pergerakan massa air suhu dan salinitas ditampilkan secara skematik dari kedalaman 0, 50, 75, 125, 150, dan 300 meter. Volume upwelling dihitung dengan mengkalikan area upwelling dengan kedalaman perairan, lalu dihubungkan dengan angin, termoklin, haloklin, morfologi dasar laut, ENSO serta IOD. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa upwelling tinggi mulai terjadi dari kedalaman 150 hingga 125 meter yang naik menuju ke lapisan kedalaman 75-50 meter. Pergerakan massa air suhu rendah dan salinitas tinggi pada bulan Juli hingga Oktober dominan bergerak dari timur ke barat, yang di permukaan dipengaruhi oleh angin serta dipicu dengan adanya basin-basin di Samudera Hindia. Volume upwelling tertinggi terjadi pada bulan Agustus hingga September sebagai akibat adanya angin muson tenggara, yang mana pada bulan September terjadi fase La NinaIOD (t). Fenomena upwelling mengakibatkan semakin rendahnya suhu pada batas atas termoklin yaitu berkisar 24”C pada kedalaman 75 meter.
Tidak tersedia versi lain