Text
Keberagaman & Perubahan Iklim Nusa Tenggara Timur: Analisis kondisi iklim tropis dan proyeksi perubahan iklim kabupaten manggarai, sabu raijua dan sumba timur
Pemanasan global adalah kenaikan suhu rata-rata udara di dekat permukaan bumi dan lautan sejak pertengahan abad ke-20 dan diproyeksikan akan terus berlangsung. Menurut laporan ke-4 Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC AR4), suhu permukaan global meningkat sebesar 0.7 & 0.32 "C (1.33 & 0.32 "F) selama abad ke-20 (IPCC, 2007). Nilai tersebut tidak terlalu jauh berbeda dengan hasil yang diterbitkan dalam laporan ke-5 (IPCC ARS) pada tahun 2013. Mayoritas kenaikan suhu yang diamati sejak pertengahan abad ke-20 disebabkan oleh peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) akibat aktivitas manusia, seperti penggunaan bahan bakar fosil dan pengurangan lahan hutan. Pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan iklim yang dampaknya dapat berbeda-beda pada setiap wilayah.
Kajian perubahan iklim di Nusa Tenggara Timur (NTT) sejauh ini belum banyak dilakukan. Beberapa kajian yang telah dilakukan terkait perubahan iklim di NTT masih terbatas pada potensi dampak yang ditimbulkan pada sektor tertentu seperti kesehatan, pertanian dan kehutanan, dan sosial ekonomi masyarakat. Secara psikologis perubahan iklim dapat dirasakan berupa perubahan perilaku iklim yang tidak menentu di NTT. Dampak yang paling dirasakan adalah penyimpangan pola hujan dari normalnya. Awal musim hujan umumnya mundur, sering terjadi periode kering (dry spell) ataupun jeda hujan (season break), curah hujan bertambah tinggi, namun periode musim hujan semakin pendek, serta sering terjadi hujan yang cukup tinggi pada musim kemarau.
Hasil kajian dari analisis data historis suhu udara dan curah hujan bulanan dari delapan Stasiun Meteorologi dan Klimatologi di NTT menunjukkan bahwa pada umumnya temperatur udara dan curah hujan bulanan mengalami tren peningkatan, dimana suhu udara semakin meningkat dan akumulasi hujan bulanan semakin tinggi, kecuali di Baa — Rote Ndao dimana suhu udara dan curah hujan bulanan mengalami tren penurunan (Geru, 2013). Sementara itu dalam kajian Tingkat Kerentanan Air di DAS Kambaniru-Sumba Timur, Pujiono (2013) mengemukakan bahwa di sekitar DAS Kambaniru telah terjadi peningkatan suhu udara rata-rata dan penurunan curah hujan selama 40 tahun terakhir (3973 2012). Selain itu berdasarkan pendekatan spasial menunjukkan bahwa bagian tengah dan hilir DAS Kambaniru termasuk kategori tingkat kerentanan tinggi sedangkan di bagian hulu memiliki tingkat kerentanan sedang.
Penggunaan model iklim untuk kajian perubahan iklim di NTT belum banyak dilakukan dan kajian yang telah ada umumnya mencakup wilayah yang lebih luas dimana wilayah NTT terma uk di dalamnya (misal: Barnett et al, 2003: IPCC, 2013: Katzftey et al., 2010) Secara umum hasil kajian IPCC (2013) mengindikasikan bahwa wilayah NTT akan terjadi peningkatan suhu udara O,S C bila menggunakan skenario emisi GRK terendah dan 4,0”C bila menggunakan skenario emisi GRK tertinggi. Selain itu, Curah hujan juga terjadi perubahan dimana curah hujan musim kemarau akan berkurang dan meningkat pada musim penghujan. Katzfey et al. (2010) melakukan kajian Perubahan iklim di Indonesia yang mencakup wilayah NTT menggunakan 6 model Global Climate Models (GCMs) berdasarkan skenario SRES A2 melalui proses dynamical downscaling (CSIRO-CCAM) dengan resolusi spasial 60 Km x 60 Km dan untuk periode waktu tahun 1971-2000, 2041-2060, dan 2081-2100. Hasil kajian proyeksi tersebut secara umum menunjukkan proyeksi peningkatan suhu maksimum dan suhu minimum serta kemungkinan terjadinya penurunan curah hujan. Barnett er al. (2003) melakukan kajian perubahan iklim di Timor Leste yang hasilnya mencakup sebagian wilayah NTT. Hasil kajian proyeksi tersebut juga menunjukkan konsistensi peningkatan suhu dengan rentang peningkatan 0.31.2 C pada tahun 2030 dan 0.8-3.6C pada tahun 2070. Demikian pula dengan curah hujan yang menunjukkan kemungkinan perubahan dengan kondisi yang berbeda pada masing-masing musim.
Pemanasan global secara langsung mempengaruhi karakteristik parameter cuaca dan iklim ekstrim yang mengancam aktivitas manusia dan lingkungan. Hasil kajian IPCC dalam laporan khusus tentang iklim ekstrim (disebut sebagai SREX: IPCC, 2012) mengkonfirmasi telah terjadinya pengaruh perubahan iklim terhadap meningkatnya kejadian iklim ekstrim di berbagai wilayah. Untuk memahami secara lebih detil tentang perubahan iklim dan perubahan kejadian iklim ekstrim dalam suatu wilayah regional maupun lokal diperlukan kajian yang lebih detil. Kajian basis ilmiah perubahan iklim dalam tataran lokal memerlukan data iklim historis yang berkualitas baik. Data tersebut juga diperlukan untuk memodelkan kondisi iklim regional dengan menggunakan pendekatan downscaling dinamik maupun statistik.
Tidak tersedia versi lain