Text
Pilihan Adaptasi Perubahan Iklim Nusa Tenggara Timur : Analisis Risiko Iklim dan Survei Lapang Kabupaten Manggarai, Sabu Raijua dan Sumba
Memahami potensi dampak perubahan iklim, pemerintah Indonesia melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim terutama pada daerah. daerah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim dan memiliki kapasitas adaptif yang rendah. Strategi adaptasi harus dirancang untuk daerah dalam rangka meningkatkan kapasitas adaptasi dan ketahanan iklim masyarakat. Salah satu daerah yang dipilih sebagai proyek percontohan adalah Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah ini dipilih mengingat kondisi mata pencaharian dan pendapatan per kapita NTT yang relatif rendah dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia. Sementara, perubahan iklim global diproyeksikan mempengaruhi kejadian iklim ekstrem di provinsi NTT, sehingga akan mempengaruhi kegiatan pertanian sebagai sumber pendapatan utama yang memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Studi ini dilaksanakan dibawah arahan dari Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang merupakan bagian dari kegiatan proyek Strategic Planning and Action to Strengthen Climate Resilience of Rural Communities in Nusa Tenggara Timur (SPARC) yang difasilitasi oleh United Nations Development Programme (UNDP) dengan dukungan pendanaan dari Global Environment Facility (GEF). Dalam rangka untuk mengurangi potensi risiko perubahan iklim khususnya pada sektor pangan, sumber daya air, and kehidupan (livelihoods), perlu disusun strategi adaptasi dalam rangka meningkatkan kapasitas adaptif dan memperkuat ketahanan iklim masyarakat (daya resiliensi) terhadap potensi dampak perubahan iklim. Laporan ini memberikan informasi rencana-rencana adaptasi perubahan iklim yang dapat dijadikan pertimbangan untuk penyusunan program adaptasi perubahan iklim provinsi NTT. Rencana adaptasi disusun berdasarkan kajian kerentanan dan risiko iklim tingkat desa untuk tiga kabupaten di provinsi NTT, yaitu: Kabupaten Sumba Timur, Sabu Raijua, dan Manggarai. Kegiatan survei rumah tangga untuk masing-masing kabupaten tersebut juga dilakukan pada akhir bulan April sampai awal bulan Mei 2014 dengan melibatkan enumerator dari masing-masing kabupaten. Kegiatan survei rumah tangga ditujukan untuk menggali dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian, sumber daya air, dan mata pencaharian (livelihoods), serta langkah-langkah adaptasi yang sudah dilakukan oleh masyarakat dalam merespon dampak tersebut. Berdasarkan hasil survei rumah tangga, masyarakat sudah melakukan kegiatan-kegiatan dalam upaya merespons kejadian bencana, misalnya: banjir, kekeringan, angin putting beliung, dan tanah longsor yang terjadi pada desa-desa survei. Identifikasi pilihan adaptasi untuk masing-masing kabupaten, dilakukan melalui kajian literatur untuk menyusun daftar pilihan adaptasi. Proses prioritisasi adaptasi perubahan iklim dilakukan melalui dua tahapan, yaitu: proses prioritisasi lokasi target dan pilihan adaptasi. Untuk lokasi target pelaksanaan adaptasi, prioritisasi dilakukan berdasarkan analisis perubahan tingkat risiko saat ini dan masa depan (2011-2040, 2041-2070, dan 20712100) untuk desa-desa potensi target pelaksanaan adaptasi. Prioritas lokasi pelaksanaan adaptasi dikelaskan menjadi segera (IM), jangka pendck (ST), jangka menengah (MD), dan jangka panjang (LT). Pemetaan prioritas lokasi untuk kabupaten Sumba Timur menunjukkan sebanyak 7 desa dari 12 desa perlu mendapatkan prioritas. Untuk kabupaten Sabu Raijua, sebanyak 6 desa dari 12 desa masuk kategori prioritas jangka pendek dengan dua desa masuk pada kategori jangka menengah, yaitu desa Nadawawi dan Kolorae. Selanjutnya, untuk kabupaten Manggarai, desa-desa yang masuk pada kategori prioritas pelaksanaan aksi adaptasi segera ada 4 desa dan jangka pendek sebanyak 3 desa. Selanjutnya, proses identifikasi pilihan adaptasi perubahan iklim dilakukan dengan pertimbangan hasil survei, kajian kerentanan, dan diskusi dengan pemangku kepentingan untuk memilih opsi adaptasi berdasarkan daftar pilihan adaptasi. Proses identifikasi tersebut menghasilkan 19 pilihan adaptasi sebagai berikut: 1) penggunaan varietas unggul/tanaman lain, 2) pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim/Sekolah Lapang Penyakit dan Hama Terpadu: meningkatkan pemanfaatan informasi iklim & penggunaan pestisida, 3) sosialisasi kalender tanam, 4) pengembangan sistem agroforestri dan tanaman pekarangan/tahunan local, 5) pengembangan masyarakat pesisir dan kelembagaannya (e.g. usaha rumput laut)", 6) konservasi daerah dataran tinggi dengan tanaman tahunan lokal/agroforestry, 7) peningkatan index panen, 8) penghijauan daerah pesisir", 9) Pengembangan daerah pertenakan (savanna), 10) pengembangan sistem inventori atau kesediaan bibit padi dan palawija lokal (seed center), 11) teknologi hemat/panen air, 12) penghijauan untuk kawasan konservasi air/perluasan penampungan air hujan, 13) perbaikan sarana transportasi untuk mendukung pertanian, 14) usaha-usaha ekonomi bernilai tambah produk pertanian/industri rumah tangga, 15) sistem peringatan dini dan stasiun iklim, 16) pengembangan kelembagaan petani (disseminasi infromasi, mekanisme pembiayaan, kelembagaan keuangan), 17) perbaikan saluran air/irigasi, 18) pengembangan jaringan atau instalasi stasiun iklim untuk mendukung Sekolah Lapang Iklim, 19) Sistem integrasi adaptasi untuk konservasi pada daerah hulu dan kawasan penangkapan air daerah hilir. Tanda bintang (“) merupakan pilihan adaptasi yang diutamakan untuk Kabupaten dengan target pengembangan wilayah pesisir seperti Sumba Timur dan Sabu Raijua. Untuk adaptasi terpilih kemudian dilakukan proses prioritisasi menggunakan kriteria-kriteria dengan sistem skoring dan pertimbangan potensi kendala dan biaya pelaksanaan masing-masing adaptasi. Penyesuaian pilihan-pilihan adaptasi untuk setiap desa target pelaksanaan adaptasi pada ketiga kabupaten dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berkontribusi besar pada tingkat kerentanan desa, informasi kejadian bencana atau hasil survei, kondisi topografi dan tutupan/penggunaan lahan masing-masing desa target. Rekapitulasi pilihan adaptasi untuk masing-masing kabupaten menunjukkan penggunaan varietas unggul atau penggantian jenis tanaman, pelaksanaan sekolah lapang iklim atau sekolah hama penyakit terpadu, dan diversifikasi usaha ekonomi yang bernilai tambah merupakan pilihan adaptasi yang sesuai untuk sebagian besar desa survei. Informasi tersebut dapat memberikan arahan penyusunan program adaptasi pada tingkat kabupaten. Diharapkan juga proses penyusunan pilihan adaptasi yang dijabarkan dapat memberikan arahan untuk replikasi penyusunan pilihan adaptasi pada daerah lainnya di Indonesia
Tidak tersedia versi lain