Text
Kaca Benggala
Kaca Benggala adalah cermin besar, yang dalam kisah Ramayana dimiliki oleh Rahwana yang digunakan oleh putera Hanoman untuk memantulkan kembali sorotan mata mematikan anak Dasamuka yang menjadi musuhnya. Kaca Benggala menjadi tameng sekaligus menjadi alat untuk menyerang balik lawannya sehingga lawannya gugur oleh pantulan sorot matanya sendiri. Dalam Babad Mataram Kaca Benggala diartikan cermin keburukan oleh pembuat cerita, yaitu kelakuan, perbuatan kejadian yang tidak boleh ditiru atau diulang kembali. Sedang Kaca Benggala yang dimaksud disini adalah alat untuk membantu telaah, untuk melihat paras tubuh bahkan gerak yang tidak bisa dilihat oleh diri sendiri dengan cara biasa. Dengan berkaca dapat dikenali apa yang harus dikoreksi atau diperbaiki. Walaupun demikian perlu juga dipahami bahwa gambaran cermin bukan keadaan sebenarnya. Karena meskipun cermin memperlihatkan kondisi dan situasi dengan jelas tetapi pasti ada distorsi dan ada yang tidak tampak. Distorsi itu terjadi karena apa yang tampak di kiri sebetulnya di kanan dan cermin tidak dapat memperlihatkan apa yang ada di belakang. Bagaimanapun apa yang tampak di cermin dapat digunakan untuk melakukan suatu perbaikan sendiri. Artinya Kaca Benggala adalah juga alat untuk introspeksi. Dapat digunakan untuk memperbaiki rias, pemasangan aksesoris sampai hal yang lebih mendasar seperti gerak tubuh. Bahkan juga dapat digunakan untuk mewaspadai keadaan yang di belakang, seperti telaah yang dilakukan melalui kaca spion. Kajian ini diumpamakan Kaca Benggala dengan maksud dapat merefleksikan kondisi dan situasi lebih jauh dan lebih luas daripada kaca spion atau cermin rias. Diharapkan telaah ini dapat menjadi inspirasi dan menghantar pada pemahaman yang jauh lebih mendalam. Selanjutnya setiap bagian yang ditelaah dapat diperiksa dengan surya kanta se dapat memberi pemahaman yang lebih baik lag atas habitat Indonesia. Apa yang akan ditelaah dalam buku ini adalah perk gan permukiman dan perkotaan dari sejak hadirnya permuk and wilayah yang sekarang di Indonesia. Melalui Kaca Beng 'a ni dicoba ditelaah bagaimana permukiman dengan batu be a had pada masa sebelum ada catatan sejarah dan masih b sa bertahan sampai saat ini sampai pada kota yang didominasi bangunan menara di abad ke 21. Artinya suatu gambaran dengan angkauan waktu lebih dari 2000 tahun. Tidak semua hal dapat d gambarkan dalam Kaca Benggala ini dan karena itu buku ini harus d'anggap hanya sebagai penghantar. Meskipun demikan diharapkan muatan pengetahuan yang dikandungnya dapat memberi insprrasi bag pembangunan pranata negara yang lebih utuh dan lebih kokoh untuk menata habitat Indonesia. Dorongan untuk mengembangkan kepranataan negara untuk menata habitat sesungguhnya telah terjadi sejak 40 tahun yang lalu. Karena pada tahun 1976 telah bangkit kesadaran bersama masyarakat dunia bahwa permukiman adalah kunci menu u ke Suatu dunia dengan kehidupan yang lebih baik. Penduduk dun begitu beragam sehingga tidak ada satu pun obat muarab yang dapat mengatasi semua kondisi dan permasalahan budaya bermukim. Walaupun demikian seluruh anggota warga dun atetap menganggap perlu untuk bersatu padu guna menyelamatkan bumi yang hanya satu yang didominasi oleh habitat manusia. Pada tahun 1996 disepakati adanya suatu agenda bersama dengan tema rumah (shelter) layak bagi semua dan pengelolaan permukiman secara berkelanjutan. Tahun 2016, segenap pemerintahan didunia beserta para pemerhati para pelaku pembangunan, para warga dan pengguna kota sebaga anggota masyarakat dunia kembali sibuk berwacana. Ditelaah bagaimana situasi kota saat ini dan apa yang harus dilakukan untuk membuat kehidupan selalu menjadi lebih baik di masa depan. Bul an Oktober 2016, di Ouito disepakati dan dicanangkan suatu prog am dunia yang disebut the New Urban Agenda. Pemerintah Indonesia menyetujui dan dapat menerima dan karena itu seharusnya juga berkomitmen untuk mengimplementasikannya. Diantara komitmen itu adalah dengan mengubah cara merencanakan, membiayai, mengembangkan, mengatur dan mengelola kota dan pemukiman. Mengakui pembangunan kekotaan dan ter torial yang berkelanjutan adalah esensi untuk berlanjutnya pencapaian perkembangan dan kesejahteraan bag semua. Dengan komitmennya tersebut dipahami bahwa Negara Republik Indonesia perlu membangun pranata habitatnya. Pemahaman ini telah membangkitkan suatu prakarsa untuk menelaah perkembangan kepranataan yang telah hadir sejak zaman purba. Dari telaah awal ini telah dirasakan perlunya ada suatu kelembagaan tinggi, yaitu suatu kementerian yang mengurus habitat Indonesia yang focus pada perkotaan. Buku ini dapat disusun atas dukungan Pusat Pengembangan W ayah Perkotaan BPIW, bantuan materi dari Dr. Suparti Amir Salim, Kel ompok Keahlian Perumahan dan Permukiman SAPPK ITB, Dr. Indah Widiastuti, Kelompok Keahlian Searah dan Teori Arsitektur SAPPK ITB, Dra. Irma Astuti M.Sc serta proses penulisan yang dibantu oleh Prio Wibowo, Zain Mahawani, Rasiona Eko K. Untuk itu disampaikan apresiasi dan terima kasih sebesar besarnya.
Tidak tersedia versi lain