Text
Mengendalikan Megalongsoran Gunung Bawakaraeng
Dinding kaldera Gunung Bawakaraeng yang longsor 26 Maret 2004 meninggalkan luka mendalam. Megalongsoran terbesar di dunia dengan volume 250-300 juta m3 itu bukan saja menewaskan 32 orang di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tetapi juga mengubur permukiman, ladang, sawah, ternak penduduk, dan meruntuhkan jembatan yang membentang di Sungai Jeneberang. usai peristiwa tragis itu, longsor susulan masih berpotensi terjadi. Apalagi pada musim hujan, longsor dan banjir bandang siap menerjang kawasan di bawahnya. Karena itulah sejak tahun 2006 tenaga ahli Indonesia dan Jepang mengendalikan megalongsoran Gunung Bawangkaraeng secara terpadu dari mulai bagian hulu, tengah, sampai hilir. Berbagai upaya tersebut membuahkan hasil. Material sedimen dapat dikendalikan. Penambang batu dan pasir pun menuai rejeki berlimpah. Lebih dari itu, Bendungan Bili-Bili juga mulai pulih kembali. Airnya mulai normal. Masyarakat lokal pun menjadi lebih terampil dan disiplin bekerja. Roda perekonomian juga mulai menggeliat seiring dengan terus dibangunnya akses jalan dan jembatan. Di buku inilah dirangkum berbagai kejadian unik sebelum longsor, kerusakan akibat longsor, pembangunan saba, sistem peringatan dini dan berbagai keterlibatan masyarakat lokal dalam memulihkan dampak bencana alam tersebut.
Tidak tersedia versi lain